BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS »

Kamis, 26 Mei 2011

Kebebasan yang kumau





Ini tentang hati, ketika aku merasa sendiri dalam keramaian. Ketika aku merasa tak memiliki apapun padahal aku memiliki lebih banyak dari yang orang-orang miliki....
dan ketika aku menyadari bahwa mereka telah pergi meninggalkanku..

TUHAN... salahkah kesedihan ini?
Terkadang aku ingin marah tetapi tak tau pada siapa
Ingin menangis tetapi takut karena tak akan ada yang menghiburku
AKu rindu saat dulu.. dimana semua masih bersama
TUHAN... namun aku percaya selalu indah RencanaMU untukku

Hari ini mendekati hari ulangtahunku
tak ada lagi Ayah yang memainkan piano untukku
tak ada lagi ibu yang memasakan paha ayam terbesar untukku
tak ada lagi Hui atau Otoyy ku sayang yang akan memberikan kecupan sayang untukku
Tak ada lagi adik dan kakak yang membawakan kado untukku
( yaaa ALLAH.. airmataku menetes kini )

Cuma ENGKAU yang aku punya kini, TUHAN
Kumohon jangan meninggalkanku juga.. jangan ya Rabbi yang maha Rahman dan Rahim

Hari ini.. airmataku kembali jatuh
bukan karena ketidakberdayaanku.. bukan pula karena tiba-tiba aku teringat akan putraku yang juga telah pergi
tetapi menangis karena melihat betapa piciknya sifat manusia yang mengaku mencintaiMU ya RAHMAN... aku sedih.. sangat sedih..

Tetapi apa yang bisa aku lakukan? Hanya memohon HidayahMU atasnya ya ALLAH..

Dan aku selalu percaya aku akan tetap aman karena ENGKAU menjagaku
dan kukuat karena aku tau ENGKAU menopangku dan hidupku ditentukan oleh kuasaMU


Teringat akan semua yang indah,aku menjadi kuat
Dan tak ada alasan aku marah akan semua ini
......." Terimakasih ya ALLAH... aku dapat merasakan betapa ENGKAU mencintaiku.. hanya saja aku mohon..kuatkanlah aku selalu.."
Dan kembali aku menghapus airmataku..

" Semua akan baik-baik saja, Chaca ..." tiba-tiba aku mendengar hatiku bersuara

Yaa.. aku ingin memiliki hati yang penuh dengan KEBEBASAN
Bebas dari sungut-sungut
Bebas dari marah dan dendam
Bebas dari iri dan cemburu pada orang lain
dan Bebas MENGASIHI PENCIPTAKU dan SESAMAKU


KEBEBASAN itu yang kurindukan ya ALLAH... hanya itu


** Untuk Calvine di Surga ...
Nak... sedang apa disana? Nggak boleh nakal ya, nggak boleh bikin bidadari repot dan kepayahan menjagamu bermain... tunggu mami disana ya, Nak! Dan kita tak akan terpisahkan lagi selamanya.



( Sambil menghapus airmata ... ALLAH, terimakasih untuk semuanya. AMin )




* Catatan dari Buku Harian Mantan Istri seorang Pejabat - Dia Mentor terbaikku *

Sebuah Diary Yang ku baca






Hui.... sedang apa disana?
Sudah makan?
Dan sarapan apa pagi ini?
Aku rindu menyediakan itu lagu untuk kamu


Menyeterika bajumu dengan parfume khusus yang aku import dari luar kota kita
Dan kamu menjadi pria terharum dikantormu
pria tertampan dalam tatapan mataku... ketika itu

Hui... masih ingatkah ketika perjalanan panjang kita?
Dengan sepeda motor berkecepatan tinggi aku memeluk erat tubuhmu dari belakang
dan kita susuri perjalanan Pekanbaru - Batu Sangkar

Lalu.. janji suci itu kita ucapkan disana...
HHhhh.. aku rindu kamu... rindu tatapan mata kamu yang selalu membuat kuberdebar
Dan rindu harum tubuhmu yang selalu membuatku betah ada disisimu..

Aku tetap sayang kamu, Hui
Dan.. jantungku berdebar hebat setiap mengingat rencana Pernikahan kita.. nanti.. waktu yang akan TUHAN tentukan untuk kamu dan aku.. kembali bersama


Dan aku akan kembali melukis hari-harimu dengan segenap cintaku
Menyanyikan ketulusan hati ini dengan melayani sebaik yang bisa aku lakukan
Menari menghibur hatimu dengan kehangatan dekapan dan rinduku

Lalu setiap siang menantimu pulang untuk mencicipi makan siang yang selalu aku buatkan untukmu
dan pada malam hari dengan senyum terindahku akan kembali kusambut saat kau pulang dari kantormu.... seperti dulu

Tak kuijinkan lagi siapapun menyakitimu

Hui... aku terlalu sayang padamu
aku terlalu sulit melupakanmu meskipun dia sempat hadir dalam hari-hariku
tak seperti padamu
tak sebesar untukmu pengabdianku padanya


Ahh... betapa aku ingin melihat kembali bahagia


Dan setelah itu... aku janji.. aku tak akan meninggalkan kamu lagi





* Catatan manis dari Buku Harian seorang Mantan istri Pejabat - Dia Mentor terbaik kami *

Ketika kuingin melupakanmu






Perjalanan panjang dipagi hari
dengan sebuah buku setia menemani aku menatap jauh keluar jendela kereta yang membawaku
teringat masa-masa itu, teringat semua yang telah lalu
ketika airmata tak lagi mampu bertahan dipelupuk mata
dan tanpa aba-aba ia mengalir sendiri membasahi pipi lalu jatuh kelantai

Ketika alunan lembut lagu " tercipta untukku " terngiang ditelinga ini
Indahnya Manhattan tak mampu membendung rasa nyeri yang tiba-tiba mengisi setiap relung hati, hingga terasa sesak dan seakan ingin pecah
pecah memuntahkan semua darah kebencian yang telah tertanam
pecah memuntahkan segala rasa yang ternyata masih ada

Toy.. masih ingatkah engkau padaku?
Lupakah engkau saat-saat mesra kita berdua? Kau memelukku dan aku menyambutnya hangat
Kau menciumku dan aku membalasnya penuh cinta
lalu.. semua tiba-tiba begitu saja kau lupakan..?

Aaahhh... mestikah aku larut dalam sedih ini?
Entahlah.. aku hanya ingin jujur.. " aku masih mencintaimu dan berharap kau tak melupakan aku"


Langit Manhattan yang biru diluar jendela tak mampu membuatku terhibur
justru senyummu terlukis disana.... " Aku rindu padamu, Pangeran hatiku "


Ternyata.. aku pun tak mampu melupakanmu..

Senin, 23 Mei 2011

Percakapan seorang AYAH & anakNYA -OLEH : Jeannette Brigitha Diandra Winata - ( Jeje )





Pada suatu malam.. ketika semua sudah sunyi.. tak ada lagi yang bersuara.. hanya bunyi ketukan jarum detik dan menit yang saling beradu dalam jam dinding rumah kecil itu.
suasana nya sangat sepi, bertolak 180 derajat dengan apa yang terjadi 10 menit yang lalu.

PInk: God..
GOD: ...
PInk: God.. where are you?? do you hear me??
GOD: ..
PInk: Okey God.. I know You are there..
GOD: (smiling)
PInk: God.. knapa kalau aku memanggil Engkau, Engkau tak pernah ada disini?? tak pernah mendengar jawabku?? apa Kau sungguh sayang padaku??
GOD: ...
PInk: (menarik nafas panjang) baiklah.. aku tau Kau ada disini saat ini.. God.. aku mau curhat.. aku sedih.. kenapa kayaknya.. hidupku gak bahagia yah? kadang aku merasa.. no one understand me.. semua keknya ada cuma ketika ada mau nya.
GOD: ...
PInk: hufff.. sometimes aku berharap aku pengen merasakan kebahagiaan ituu.. sekalii aja dalam hidupku.. just once in a lifetime.. pantaskah aku?
GOD: ...
PInk: God.. please answer my prayer.. dengan tanda apapun... aku ingin Engkau hadir saat ini juga.. di kamar ini..
GOD: ...
PInk: Tuhan.. kenapa Engkau diam saja? tunjukkanlah diriMU.. bukankah lebih baik begitu? agar semua orang percaya kalau Kau memang ada..
GOD: my dear..
PInk: yes Dad?
GOD: aku mau mereka percaya dengan iman..
PInk: maksudnya?
GOD: bukan dengan apa yang mereka lihat.. berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya kepadaKu.
PInk: ..
GOD: my dear..
PInk:: ya?
GOD: bukankah kebahagiaan merupakan suatu pilihan?
PInk: maksudnya?
GOD: bahagia adalah suatu hal yang harus kamu pilih semasa hidupmu.. sekarang, apa yang menjadi masalahmu?
PInk: akuuu.. aku pengen orangtua yang sempurna.. yang mengerti aku.. aku pengen.. punya pacar yang setia.. aku pengenn.. blackberry.. akuu.. aku pengen banyak hal Dad..
GOD: Aku memberikan padamu apa yang kamu butuhkan, bukan yang kamu inginkan, semua itu keinginan kamu kan? bukan kebutuhan.. Aku tau apa yang terbaik buat anak.anakKu..
PInk: tapi aku merasa gk bahagia GOD..
GOD: kenapa?
PInk: aku iri sama mereka yang lebiihh segalanya dari aku..
GOD: apa kamu pikir mereka bahagia??
PInk: may be,,
GOD: sapa bilang? kalo mereka bahagia? gak mungkin ada kisahnya konglomerat loncat dari gedung untuk bunuh diri? kalo mereka bahagia gak mungkin ada kasus pembunuhan untuk memperebutkan warisan..
PInk:: ...
GOD: kebahagiaan itu pilihan dear.. banyak dari manusia.. yang hidupnya pas pas an.. tapi selalu ada damai sejahtera di hatinya..
PInk: kenapa bisa begitu?
GOD: karena ada Aku di hatinya.. karena apa yang ada di hidupnya selalu diucapkan dengan ucapan syukur.. meski mereka makan hanya sekali sehari, hidup tanpa internet, tanpa TV, tanpa pacar sempurna, tanpa blackberry, banyak yang tetap hidup damai..
PInk: itu kan mereka..
GOD: apa bedanya mereka dengan kamu? bukankah kamu anakKu? lihat. saudaramu di sebelah sana saja bisa menciptaka lagu yang sangat indah. jangan menyerah.
PInk: God tau lagunya?
GOD: syukuri apa yang ada, hidup adalah anugerah, tetap jalani hidup ini, melakukan yang terbaik.
PInk: waw~ Daddy hebad..
GOD: mereka yang tidak mengenal aku saja bisa menciptakan lagu yang indah itu.. kenapa kamu anakKu malah merasa putus asa dan tak bahagia?
PInk: sorry Dad..
GOD: my dear.. apa yang kamu miliki saat ini, itu semua Aku berikan, karena aku tau itu yang terbaik untukmu.. happiness is a choice.. you can choose whether you want to be happy or not. banyak orang bergelimang harta tapi tak pernah merasa cukup. kebahagiaan gk diukur dari merek hape yang kamu pakai, gak juga dari merek baju yang kamu pakai, gak diukur dari seberapa gantengnya pacar yang kamu punya, juga gak dari seberapa hebat dan kayanya orangtuamu.
PInk: oke God.. ajari aku tuk selalu mengucap syukur di sepanjang waktu.
GOD: i'll be wherever you are dear..
PInk: thanks Dad..

Sebuah pesta merayakan kehilangan





Hidup ini memang selalu tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Sekuat-kuat kau perpegangan pada sesuatu, akan selalu ada cara yang membuatmu terlepas dari sesuatu yang kau genggam erat sekalipun. Sebab dia, yang mungkin kau mohon-mohon untuk tidak meninggalkanmu, sesungguhnya bukan milikmu. Dan bukankah bahkan dirimu sendiri, sesungguhnya tidak benar-benar mampu kau kendalikan nasibnya?

Ada kekuatan maha dahsyat yang ikut mengulurkan tangannya, mencampuri setiap kejadian “menemukan” dan “kehilangan” yang kau alami dalam setiap detik hidupmu. Maka relakan saja semua, sebelum sesuatu yang bukan milikmu itu benar-benar pergi.

Luka, juga bertetes-tetes air mata pasti ada. Anggaplah itu hadiah. Nikmati setiap sesak dan semua sakit yang menekan dan memukul-mukul dadamu, membuatmu susah bernafas. Hayati setiap tetes air mata yang jatuh itu. Rayakan kehilanganmu!

Rayakan? Ya! Temukan sesuatu dalam setiap sakit yang menekan dadamu, juga di antara tetes air mata yang keluar dari matamu. Sebab kehilangan tak pernah datang sendiri. Kehilangan selalu datang bersama “menemukan kembali”, maka temukan! Nikmati, hayati, rayakan, maka kelak akan kau temukan sesuatu dibalik ratapan panjangmu.

Sebab seperti kataku tadi, hidup ini memang selalu tentang meninggalkan dan ditinggalkan. Siap tidak siap, suka tidak suka.


Batam, 24 Mei 2011

- Echa Ogie -

Rabu, 04 Mei 2011

Hari ini




Selesai Sholat Tahajud ( kira2 jam 04:00 wib pagi tadi ) aku langsung OL dan nyapa temen-temen di FB. Dan setelah itu asyik bercengkerama dengan Diary Ungu-ku akhirnya aku ketiduran. Asyik yang dingin dan musik yang lembut membuat mata ini kembali merem alias tertidur.

Sebuah kecupan manis membuat mata ini terbangun tepat pukul 05:00 wib, koko-ku tersayang rupanya. Buru-buru ambil Wudhu dan Sholat subuh. Setelah itu lari keliling komplek bareng koko sayang. :) .. indahnya.

09:30 wib aku mulai aktifitasku. Ya ALLAH, tiba-tiba rasa nyeri menusuk hatiku. Teringat perbuatan orang-orang yang berbuat baik ( awalnya ) tetapi ternyata mereka hanya memanfaatkan aku. Lalu memfitnahku habis-habisan. Padahal aku tidak pernah berbuat jahat pada mereka. Saat itu kakakku menelponku, ia katakan ia dapatkan CD Original " Sweet Dream " Jang Nara yang asli. Padahal itu lagu lama banget, tapi aku suka sangat suka.

Langsung aja aku buka you tube dan menikmati alunan suara indah si cantik Jang Nara.

" T'S GONNA BE ANOTHER DAY WITH THE SUNSHINE
hessarun naui changur barke bichugo banjum nunur tossur ten
gude misoga narur bangyoyo...
Ne bore sarjag imachugo sarang handago sogsagyojyo
ne morimathen MORNING COFFEE hogshi nega kumur kunayo? "


Aku gk mau pusing sama semua perbuatan orang-orang yang suka dan selalu suka memanfaatkan posisiku dan hidupku ini. Huffttt .. jahatnya.
Teringat kata-kata indah kedua orangtuaku :" Biarlah TUHAN yang membalas segala kejahatan yang manusia berikan pada kita. Sebab Pembalasan itu adalah hakNYA ".

Thank you Papi ♥, thank you Mommy ♥ ... betapa aku bangga memiliki orangtua yang searif dan sebijaksana kalian.♥♥

" IT'S GONNA BE ANOTHER DAY WITH THE SUNSHINE
gudega narur arumdabge haneyo narur anajulleyo
sarang handago marhejurkeyo...
WHEN WE CAN GET TOGETHER I FEEL PARADISE
machi nan yonghwasoge juingong chorom sarang badgi wiheso
gude mamsoge dashi theonan gojyo
Jigum isungan naboda hengboghan saramun obgejyo
keji anhge hejwoyo DON'T BREAK IT nan ikum aneso... "

Sambil goyang-goyang kepala dan menikmati irama lagu " Sweet Dream ".. aku senyum-senyum sendiri depan komputer ini.

Kangen Papi, Kangen Mommy ... Kangen my Family ... dan JUJUR... tak ada yang lebih indah daripada keluargaku dan Sahabat2ku terutama ALLAHku dalam Mencintai dan mengasihiku. ♥♥

( Kembali tersenyum )... Terimakasih ya TUHAN... ENGKAUlah Sumber Segalanya bagiku, Rindunya aku ingin bertemu denganMU, dalam pelukkanMU... selamanya ...


........... IT'S GONNA BE ANOTHER DAY WITH THE SUNSHINE ....................
........... WHEN WE CAN GET TOGETHER I FEEL PARADISE .......................


I love my GOD, my Family and my bestfriends ...♥♥



Batam, May 5th 2011

- Echa Ogie -

Senin, 04 April 2011

Pangeranku Minggat ke Jupiter




Menatap langit aku malam ini, walau tak ada apa-apa menemani gelapnya. Tak ada bulan, tak juga ada bintang. Langit hanya berisi gelap, kosong, sekosong hatiku yang terpaku menatap gelapnya malam.
Bukan pesona langit yang menahanku berdiri menengadah menatap ke arahnya malam ini. Aku menatap langit sambil diam-diam mengulang doa dalam hati, berharap sebuah cahaya putih yang baru saja kulepas pergi dan menghilang di ujung langit kembali muncul, mendekat, lalu tersenyum ke arahku.
Cahaya yang kutunggu ini bukan bintang, bukan juga ekor komet. Cahaya ini adalah belahan hatiku, atau mungkin lebih tepat jika aku menyebutnya ‘hatiku’ saja dia yang kunamai “ PANGERAN HATIKU*. Karena sepeninggal cahayanya yang kusaksikan menghilang di ujung langit -entah sudah berapa lama- aku hanya mampu berdiri terdiam, tak bergerak, tak melakukan apa-apa, selain tetap memandang langit, sambil terus-terusan merapal harap agar dia kembali muncul, memutar haluan, berubah pikiran, lalu berbalik ke arahku.
***
Aku ingin mengejar mimpiku, menjelajahi konstelasi, membangun rumah indah di Jupiter, lalu sesekali pelesir ke venus jika penatku datang.”
Pria itu memecah keheningan di antara kami suatu hari, saat kami asyik menjalankan kegiatan kesukaan kami, memandang langit penuh bintang. Pernyataan yang membuat aku kaget hingga tersedak air liurku sendiri. Akhir-akhir ini penduduk bumi memang berbondong-bondong pindah ke Jupiter. Bumi katanya bukan lagi tempat yang nyaman untuk ditinggali, terlebih sejak isu pemanasan global ramai jadi bahan pembicaraan di mana-mana.
“Jupiter? Kenapa harus begitu jauh? Kenapa tak di sini saja kau bangun rumahmu, lalu aku menemanimu pelesir kapanpun kau merasa bosan?” Jawabku sambil masih terbatuk-batuk mengatur nafas, setengah panik, setengah berharap dia bercanda barusan.
Aku takkan sekaget ini jika yang mengatakan ini adalah orang lain, yang hanya gemar bermimpi, dan tak benar-benar yakin akan mimpinya. Masalahnya kalimat mengejutkan itu baru saja kudengar dari mulut pria paling ambisius yang pernah kutemui dalam hidupku, dan jika dia mengatakan bahwa dia ingin sesuatu, maka akan dikejarnya keinginannya itu sampai dia benar-benar mendapatkannya. Itulah Pangeranku.
“Aku sudah muak tinggal di bumi. Muak melihat kekacauan di planet biru ini. Di sini, yang benar diperlakukan sebagai pendosa, dan yang bersalah justru mati-matian dipuja dan dihormati, yang rasanya membuat nuraniku tak lagi tentram. Teriakanku tak terdengar, dan aku lelah melihat semuanya berjalan salah. Aku harus mencari rumah baru yang memberiku rasa tentram dan kenyamanan. Dan kabarnya, Jupiter memiliki itu semua. Planet hijau itu kini kuidamkan untuk jadi tempatku beranjak tua.” Jelasnya panjang lebar dengan intonasi yang menggebu-gebu, bak aktivis yang hobi orasi di pelataran gedung hijau, semangat yang menyebabkan aku hilang kata.
“Benar-benar harus sebegitu jauh?” Tanyaku akhirnya, memecah kesunyian yang tercipta semenjak dia mengakhiri pernyataan menggebunya soal bumi yang tak lagi nyaman untuk nuraninya.
“Ya!” Jawabnya sambil mengangguk mantab. “Dan sesungguhnya ini bukan tentang jarak, ini tentang petualangan, petualangan menemukan tempat yang membuat nurani kita tentram. Karena jika bukan aku, tak ada seorang pun yang akan mendengarkan nuraniku. Dan jika nurani ini mendambakan petualangan, maka akan kuajak dia berpetualang.” katanya sumringah dan penuh semangat, sambil merenggangkan kedua tangannya seolah memeluk langit luas.
“Lalu aku bagaimana? Kalau kamu pergi, aku sendiri.“
Kuungkapkan juga akhirnya ketakutanku. Dia lalu menoleh memandang wajahku, lalu tersenyum dengan senyuman menenangkan. Rupanya kekhawatiranku tertangkap oleh radarnya. Ya, memang selain ambisius, pria di sampingku ini mempunyai radar hebat yang mampu mendeteksi perasaan orang lain, kadang terkesan sok tahu, walau seringnya benar.
“Kamu bisa ikut aku, kita bangun rumah kita di sana, berdua.“
Aku terdiam. Dia masih tersenyum. Aku memalingkan wajah, lalu sunyi kembali menguasai. Memberikan aku dan dia waktu untuk sibuk dengan pikiran kami masing-masing. dan di sela-selanya, aku mencari cara untuk coba menahannya dari pergi jauh ke planet hijau dambaannya.
“Entahlah!” kataku akhirnya kembali memecah keheningan. “Di sana kau mungkin akan kesulitan menemukan kentang dan ayam goreng kesukaanmu.”
Dia tertawa, lalu menjawab sambil bercanda. “Tidakkah kau tahu, planet hijau itu planet mimpi. Hal yang katanya tak mungkin di bumi, bisa terjadi di sana. Di halaman rumahku nanti, akan kubangun rumah kaca, tempatku menyilangkan berbagai jenis tanaman, hingga kudapati satu yang berbuah kentang dan ayam goreng di pucuk-pucuk pohonnya. Jadi ketakutanmu itu bukan masalah bagiku.” katanya masih tertawa.
Tawanya membuat aku frustasi. Sepertinya dia benar-benar tak lagi mudah digoyahkan. Dan aku? Ah, aku ini manusia pengecut. Jangankan berpetualang ke lain planet, saat ditantang pergi ke negara asing hanya bermodal ransel dan uang secukupnya pun aku sudah mentah-mentah menolak. Tak apalah jika tantangan itu berlaku di wilayah negara yang masih berbendera merah putih ini, setidaknya masih kumengerti bahasa penduduk-penduduknya. Tapi jika harus mengadu nasib tanpa benar-benar tahu cara berkomunikasi, aah, maaf-maaf saja, aku tak bernyali.
Dan jika untuk itu pun tak mampu kukumpulkan nyaliku, maka bagaimana dengan ini, pria ini menantangku melintas planet, berpetualang katanya. Mungkin petualangan baginya, tapi itu absurd bagiku. Aku menyebut diri sendiri konservatif, gak neko-neko. Walau kebanyakan orang lebih setuju menyebutku pecundang. Dan ini pula yang membuat mereka berani bertaruh bahwa hubunganku dengan pria petualang ini takkan bertahan lama, karena kami dinilai terlalu berbeda, walau akhirnya kami membuktikan bahwa mereka salah, setidaknya sampai saat ini, saat dia mengungkapkan rencananya pindah ke Jupiter.
“Tak bisakah kau pikirkan lagi rencanamu itu? Aku tak tahu bagaimana melanjutkan hidupku tanpa pembicaraan panjang kita di bawah langit berbintang. Aku tak tahu cara memejamkan mata tanpa dongeng panjang yang kau ceritakan setengah berbisik di ujung telepon, yang baru kau hentikan saat aku terlelap. Aku tak tahu…“
Aku tak mampu menyelesaikan kalimatku. Tenggorokanku tercekat. Air menggantung di pelupuk mataku. Tak pernah aku sampai lepas menangis di hadapannya, tapi kali ini, biarlah kuabaikan ego kelaki-lakianku, jika saja air mata ini mampu menahannya dari petualangan absurdnya. Karena jujur saja, walau hati ini terlanjur jadi miliknya, terlalu berat mengorbankan diri meninggalkan tanah lahirku demi memuaskan mimpi pria kecintaanku ini.
“Kamu akan baik-baik saja!” katanya tersenyum
“Aku takkan baik-baik saja” jawabku dengan suara tertahan
“Kamu akan baik-baik saja!” katanya sekali lagi, meyakinkan, walaupun kulihat matanya pun mulai berkaca-kaca.
Mimpiku adalah membangun rumah kami di sini, di bawah langit yang katanya memanas, di atas negeri yang katanya semerawut, bersama dia. Menjadi tua bersama, menjadi saksi setiap helai rambutnya hitam lebatnya yang menipis dan berubah abu-abu. Hingga pada suatu hari kembali menyatu bersama tanah tempat aku dilahirkan. Sedangkan mimpinya adalah berpetualang, menjelajahi dunia, planet, dan jika tak juga puas, bisa jadi dia kemudian akan berpindah dari satu galaksi, ke galaksi yang lain. Hingga pada masanya nanti petualangannya terhenti, entah di mana.
Dan aku percaya, tak ada mimpi yang boleh dikorbankan. Jika kemudian mimpi kami berbeda, tak ada yang boleh saling menahan mimpi, betapa pun besarnya cinta yang terlanjur tumbuh subur.
Maka dengan iringan air mata, aku lepas dia terbang melintas langit, menuju Jupiter, planet hijau, rumahnya yang baru.

***
Air mataku sesungguhnya sudah mengering, entah sejak kapan. Tapi tubuhku masih di sini, berdiri di tempat aku terakhir melambaikan tangan, mengucap selamat tinggal sambil berkali-kali menyeka ujung mata yang basah, mengulang-ngulang doa agar dia kembali. Di sana, di planet hijau, bisa jadi dia sedang sibuk menyilang pohon yang satu dengan yang lain, sambil sesekali mendendangkan lagu ceria dari bibirnya yang merah. Atau, bisa jadi, dia justru sudah berhasil menemukan varian pohon baru, dan saat ini sedang sibuk memanen kentang dan ayam goreng dari pohonnya.
Sosoknya melekat di otakku, selekat lintah-lintah yang menempel di kaki para ibu yang sibuk mencuci di pinggir kali. Dan aku tak henti mengharap pada Tuhan untuk menghadirkan aku di otaknya, agar siapa tahu dia berubah pikiran, lalu memutuskan kembali pulang, bertemu aku. Di bumi ini
Semoga
*****
-
Wahai Pangeran, aku menunggumu pulang, menunggumu merindukan aku, merindukan kita, di tempat yang sama dimana aku melambai melepasmu pergi. Dan bila saatnya tiba, aku akan memelukmu yang datang dengan sisa-sisa debu Jupiter di jaketmu. Dan peluk itu takkan kulepas, hingga kau takkan bisa pergi lagi, di sini saja, di pelukku.
Bila saja kamu kembali…

Batam, April 5th 2011
- Echa Ogie -